My Melody Is Cute

Jumat, 09 April 2010

Apakah Ini Cinta ?

Bel berbunyi ketika aku memasuki gerbang sekolah . ” Untung aku tidak terlambat” pikirku . Aku bergegas memasuki kelas . Hari ini adalah hari yang ku benci, tentu saja karena pelajaran matematika . Aku selalu mendapat masalah di pelajaran ini . Seperti biasa kelas tak pernah tenang, selalu saja ada keributan . Tak disangka guru matematika kami datang dengan membawa seorang murid laki-laki. Kelihatannya dia seperti murid baru, dan benar saja dia memang murid baru di kelas kami. Dengan gagahnya, murid baru itu memasuki kelas kami membuat semua murid teralihkan perhatiannya. Dengan segera Bu Ratih, guru matematika kami mempersilahkan murid baru itu untuk memperkenalkan diri.
” Selamat pagi.” murid baru itu mulai berbicara .
” Saya Evan . Sebelumnya saya bersekolah di Australia karena ayah saya bekerja disana . Namun terpaksa saya harus kembali ke Indonesia karena sekarang ayah saya bekerja disini .” nadanya terdengar arogan .
Ketika bu Ratih mempersilahkan Evan untuk duduk, aku yakin dia bakal duduk sebangku bersamaku karena hanya bangku disebelah akulah yang masih terlihat kosong . Dan lagi-lagi pikiranku benar, dia duduk di sebelahku . Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan anak baru itu, sepertinya dia sombong.
” Hai Evan . Kenalin aku Denia .” aku mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Betapa geramnya aku ketika dia hanya melirikku acuh tak acuh dan mengabaikan uluran tanganku. ” Uuuh .. tuh kan bener ! Dia tuh sombong banget . Aku yakin aku takkan betah duduk sebangku dengannya .” geramku dalam hati.
Bel istirahat berbunyi , kebetulan sekali cacing-cacing di perutku sudah minta diberi makan . Aku bergegas menuju kantin . Aku memesan semangkuk baso kesukaanku dan segelas orange juice . Aku menyantapnya dengan lahap , namun seketika selera makanku hilang karena melihat si anak baru itu seolah-olah tebar pesona pada sekumpulan cewek-cewek centil .
” Wiih dasar cowok nyebelin . Aku akuin sih dia emang ganteng . Tapi kelakuannya gak banget deh !!” gerutuku .
” Hei Denia ! Kenapa kamu ? Kok mukanya cemberut gitu sih ?” Tiba-tiba saja ada yang mengagetkanku.
” Eh Kinan . Itu tuh . Coba deh liat kelakuan si Evan . Sok tebar pesona gitu sama cewek-cewek.”
” Trus kenapa ? Biarin aja lah !”
” Iya tapi kan ...” aku tidak melanjutkan perkataanku karena bel sudah berbunyi .Kami segera bergegas masuk kelas .
Sebulan sudah berlalu . Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di sekolah . Jarang-jarang aku datang sepagi ini . Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bel pun berbunyi . Evan belum sampai dikelas . Aku terus memandang ke arah pintu sampai akhirnya Evan datang juga . Dia langsung duduk disebelahku, menatapku tanpa ekspresi dan setelah itu pandangannya lurus kedepan. Lama sekali aku menatap wajahnya dan ia terlihat sangat menawan . Hampir semua cewek dikelasku tertarik padanya . Jika saja sifatnya tak seperti itu, mungkin saja aku pun sama dengan mereka ”suka padanya” . Tiba-tiba saja suaranya membuyarkan lamunanku .
”Ada apa ?” suaranya terdengar sinis .
Aku segera menjawabnya . ”Oh..oh.. tidak ada apa-apa !”
” Kalau begitu tak usah menatapku seperti itu .”
Bu Dewi, guru sejarah kami pun akhirnya datang juga . Selama jam pelajaran, aku tak pernah bisa berkonsentrasi karna banyak sekali pikiran dalam benakku .
“Mungkinkah aku menyukai Evan? Tapi ga mungkin . Dia begitu sinis padaku . Aaaaah ...” jeritku .
Seisi kelas langsung menatapku heran . Akupun tak sadar telah berteriak sekencang itu .
“Ada apa Denia?” seru Bu Dewi .
“Hah .. apa ? hmm .. tidak ada apa-apa kok bu” jawabku terbata-bata.
“Lalu kenapa tadi kau berteriak?”
“Itu bu .. eh ada kecoa . Iya ada kecoa bu!”
“Oh hanya itu . Anak-anak ayo lanjutkan pekerjaan kalian.”
Enam bulan telah berlalu . Dan entah mengapa perasaan ini terus muncul . Mungkin benar ini yang namanya cinta . Walaupun sampai saat ini dia selalu sinis padaku, tapi justru karna itu aku tertarik padanya . Sampai suatu hari aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku pada Evan . Sebenarnya aku sudah tau bahwa dia akan menolakku dan benar saja dia tidak merespon sama sekali . Sepulang sekolah aku langsung bergegas pulang ke rumah . Air mata ini sudah tidak dapat dibendung lagi . Sesampainya dirumah, aku langsung berlari menuju kamar dan membanting pintunya . Aku menangis tersedu-sedu . Seharusnya aku tidak menyatakan perasaanku pada Evan .
Tiba-tiba ibuku mengetuk pintu .
“Denia .. Denia ..” panggil ibuku .
“Ada apa bu? Aku sedang tidak ingin diganggu”
“Ada yang mencarimu nak.”
“Siapa bu?”
“Ibu tidak menanyakan namanya. Ayo cepat sana temui dia”
“Iya sebentar.”
Akupun mengusap air mata diwajahku dan bergegas menemui orang itu . Betapa kagetnya aku ketika aku tahu bahwa yang datang kerumahku itu adalah Evan .
“Evan !” seruku kaget.
“Hei Denia !” kata Evan.
“Ngapain kamu kesini?” dengan suara sinis.
“Hmm .. soal tadi . Aku mau minta maaf sama kamu.”
“Ga perlu . Sebaiknya kamu pulang aja.”
“Ga ! Aku ga bakalan pergi seblum kamu maafin aku . Dan satu lagi, ada yang pengen aku bicarain juga sama kamu.”
“Oke.. kamu boleh masuk”
Akhirnya aku membolehkan dia untuk masuk . Selama beberapa menit tidak ada suara . Dan akhirnya aku memulai pembicaraan.
“Katanya ada yang mau kamu omongin . Apa?”
“Gini, aku minta maaf banget atas kejadian tadi.” “Terus?”
“Ada satu hal lagi, mungkin ini bakal nyakitin hati kamu . Sebenarnya sebelum aku pindah ke Indonesia, aku udah punya pacar disana. Dan sampai saat ini, aku masih sama dia .”
“Hah? Apa ? Jadi Evan udah punya pacar?” tanyaku dalam hati.
“Denia .. sekali lagi aku minta maaf ya ! Gimana kalo kita sahabatan aja ? Sebenarnya aku udah lama pengen berteman akrab sama kamu. Cuma ya itulah kekurangan aku. Aku kurang bisa mendekatkan diri sama siapapun. Jadi kamu maukan maafin aku dan jadi temen aku ?”
“Iya deh aku maafin kamu dan jadi temen baik kamu.”
“Makasih ya atas pengertian kamu. Aku harap kamu bakal jadi temen terbaik aku.”
“Tentu aja.”
Yaa.. walaupun ga seperti apa yang aku harapkan tapi mungkin suatu saat aku dan Evan bisa lebih dari sekedar sahabat .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman