My Melody Is Cute

Selasa, 15 Desember 2009

BAB 2

PENDUDUK MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

A. PENDAHULUAN

Pertumbuhan penduduk yang makin cepat, mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Dengan adanya pertumbuha aspek-aspek kehidupan tersebut, makabertambahlah sistem mata pencaharian hidup dari homogen menjadi kompleks.Berbeda dengan makhluk lain, manusia mempunyai kelebihan dalam kehidupannya.Manusia dapat memanfaatkan dan mengembangkan akal budinya.Pemanfaatan danpengembangkan akal budi telah terungkap pada perkembangan kebudayaan, baik kebudayaan rokhaniah maupun kebudayaan kebendaan Akibat dari perkembangan kebudayaan ini, telah mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhanhidupnya.

B. PERTUMBUHAN PENDUDUK

Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk khususnya. Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara bahkan dunia. Waktu penggandaan penduduk dunia selanjutnya diperkirakan 35 tahun. Penambahan atau pertambahan penduduk di suatu daerah atau negara pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor demografi sebagai berikut :
  1. Kematian (Mortalitas)
  2. Kelahiran (Fertilitas)
  3. Migransi
Di dalam pengukuran demografi ketiga faktor tersebut diukur dengan tingkat atau rate. Tingkat atau rate ialah kejadian dari peristiwa yang menyatukan dalam bentuk perbandingan. Biasanya perbandingan ini dinyatakan dalam tiap 1.000 penduduk.

1. Kematian

Ada beberapa tingkat kematian. Akan tetapi disini hanya dijelaskan dua jenis tingkat kematian saja yakni :

a. Tingkat Kematian kasar (Crude Death Rate atau CDR)

Tingkat kematian kasar adalah banyaknya orang yang meninggal pada suatu tahun perjumlah penduduk pertengahan tahun tersebut. Secara di nyatakan tiap 1.000 orang. Dengan Rumus :

CDR = Jumlah Kematian / Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun x 1.000

Atau

CDR = D / PM x K

D = Jumlah Kematian
PM = Jumlah Penduduk Per tengahan Tahun
K = Konstanta (1.000)

Penduduk pertengahan tahun ini dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
  1. Pm = 1/2 (P1 + P2)
  2. Pm = P1 + (P2 - P1) / 2
  3. Pm = P2 - (P2 - P1) / 2
Pm = Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun
P1 = Jumlah Penduduk Pada Awal Tahun
P2 = Jumlah Penduduk Pada Akhir Tahun

b. Tingkat Kematian Khusus (Age Specific Death Rate)

Karena tingkst kematian itu dipengaruhi oleh beberapa faktror antara lain umur, jenis kelamin, pekerjaan. Umpama laki-laki berusia 85 tahun mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mati dari pada laki-laki umur 25 tahun. Maka digunakan tingkat kematian menurut umur (Specific Death Rate). Dengan tingkat kematian ini menunjukkan hasil yang lebih teliti. Karena angka ini menyatakan banyaknya kematian pada kelompok umur tertentu 1.000 penduduk pada kelompok umur yang sama, maka Rumusnya sebagai berikut :

ASDRi = Di / Pmi x K

Di = Kematian Penduduk Kelompok umur i
Pmi = Jumlah Penduduk Pada pertengahan Tahun Kelompok Umur i
K = Konstanta (1.000)

2. Fertilitas (Kelahiran Hidup)

Pengukuran fertilitas tidak sesederhana dalam pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alasan sebagai berikut :
  1. Sulit memperoleh angka statistik lahir hidup karena banyak bayi-bayi yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran, tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir mati.
  2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak (tetapi meninggal hanya sekali).
  3. Makin tua umur wanita tidaklah berarti, bahwa kemungkinan mempunyai anak makin menurun.
  4. Didalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja. Tidak semua wanita mempunyai kemungkinan untuk melakukan.
Ada dua istilah asing yang kedua-duanya diterjemahkan sebagai kesuburan :

a. Fecundity (Kesuburan)
Facundity adalah lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk mempunyai anak.
b. Fertility (Fertilitas)
Fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Yang dimaksud dengan lahir hidup adalah kelahiran dengan tanda-tanda kehidupan misalnya : bernafas, bergerak, berteriak atau menangis, ada denyutan jantung dan sebagainya. Tinggi rendahnya kelahiran dalam suatu atau sekelompok penduduk erat hubungannya dan tergantung pada : struktur umur, penggunaan alat kontrasepsi, pengangguran, tingkat pendidikan, status pekerjaan wanita serta pembangunan ekonomi. Tingkat kelahiran kasar (Crude Birth Rate atau CBR) adalah jumlah kelahiran hidup pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1.000 penduduk pada pertengahan tahun tersebut.

CBR = Jumlah Lahir Hidup / Jumlah Penduduk Pada Pertengahan Tahun x 1.000

Atau

BCDR = b / PM x K

B = Jumlah Kelahiran Hidup Pada Suatu Dunia Pada Suatu Tahun Tertentu
PM = Jumlah Penduduk Pada Pertengahan Tahun
K = Konstanta (1.000)

General Fertility Rate (GFR) Angka Kelahiran Umum

GFR adalah angka yang menunjukkan jumlah kelahiran per 1.000 wanita usia produktif. Wanita yang berumur produktif antara 15-44 tahun atau antara 15-49 tahun. Jadi untuk menghitung angka kelahiran ini diperlukan jumlah penduduk wanita usia produktif atau subur.
Rumus :

GFR = Jumlah Kelahiran Hidup Per Tahun Tertentu / Jumlah Wanita Usia Subur Pada Pertengahan Tahun x 1.000

Atau

BGFR = B / Fm (15-44) Tahun x K

Atau

BGFR = B / Fm (15-49) Tahun x K

B = Jumlah Kelahiran Hidup Pada Suatu Daerah Pada Suatu Tahun Tertentu
FM = Jumlah Penduduk Wanita Pada Pertengahan Tahun
K = Konstanta (1.000)

Age Specific Fertility rate (ASFR) Tingkat Kelahiran Khusus


ASFR menunjukkan banyaknya kelahiran menurut umur dari wanita yang berada dalam kelompok umur 15-49 tahun. Ukuran ini lebih baik dari pada ukuran diatas, karena pengaruh dari pada variasi kelompok umur dapat dihilangkan. Oleh karena itu ada perbedaan yang jelas mengenai fertilitas wanita dalam tiap kelompok interval 5 tahun. Rumusnya adalah sebagai berikut :

ASFRi = Bi / Fmi x K

Bi = Jumlah Kelahiran Dari Wanita Kelompok Umur 1 Tahun
FMi = Jumlah Penduduk Wanita Pada Pertengahan Tahun Dalam Kelompok Umur i
K = Konstanta (1.000)

Migrasi

Langkah-langkah seseorang migran dalam menentukan keputusannya untuk pindah ke daerah lain atau kawasan (areal) lain terlebih dahulu ingin mengetahui lebih dahulu faktor-faktor sebagai berikut :
  1. Persediaan sumber alam
  2. Lingkungan sosial budaya
  3. Potensi ekonomi
  4. Alat masa depan
Dengan adanya Intervening Obtacles (Rintangan Antara) maka timbul 2 proses migrasi yakni :
  1. Migrasi Bertahap
  2. Migrasi Langsung
Secara garis besar kemampakan migrasi diIndonesia dibagi menjadi dua kemampakan yaitu : Urbanisasi dan Migrasi Intergional atau Transmigrasi.

Akibat Migrasi
  • Urbanisasi (migrasi dari desa ke kota) walaupun urutannya sangat kecil, namun dapat mempengaruhi pola distribusi penduduk secara keseluruhan.
  • Migrasi Interegional di Indonesia kebanyakan dilaksanakan oleh mereka yang berumur produktif dan kreatifitas tinggi.
  • Migrasi antar negara di Indonesia adalah sangat kecil dari hasil sensus penduduk pada tahun 1971 sampai dengan 1980migrasi masuk (immigrasi) hanya ada 0.61 % dan migrasi ke luar (emigrasi)hanya sebesar 0.57 % per tahun. Aspek sosiologi migrasi adalah adanya proses melepaskan diri dari suatu struktur sosial dan masuk ke dalam struktur sosial atau pada kultur yang lain dengan problematik penyesuaian yang timbul dari padanya. Komposisi penduduk menurut Pallard komposisi penuduk merupakan distribusi statistik sejumlah individu yang tercakup di dalam suatu jumlah penduduk tertentu menurut karakteristik seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, jenis pekerjaan dan sebagainya. Sedangkan menurut Josepx Y Spengler dan Otis Douley Ducan komposisi penduduk dapat diartikan sebagai gabungan frekuensi penyebaran ciri-ciri yang terukur atau variabel-variabel lain dari anggota-anggotanya. Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk merupakan pengelompokan dari pada penduduk yang didasarkan pada karakteristik tertentu yang akan disesuaikandengan kegunaanya. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin mempunyai peranan yang sangat penting hanya dapat untuk mengetahui :
  1. Pertumbuhan penduduk disuatu daerah termasuk cepat atau lambat.
  2. Rasio ketergantungan.
  3. Jumlah wanita dalam usia subur.
  4. Jumlah tenaga kerja yang tersedia.
  5. Berdasarkan tempat tinggal.
  6. Bentuk piramida bentuk.
Menurut Jhon Clark pertumbuhan penduduk dikatakan cepat bila golongan umur 0-14 tahun lebih dari 40% dari golongan umur 60 tahun dan lebih sama atau kurang dari 10%. Untuk mengetahui pertumbuhan penduduk suatu daerah cepat atau lambat dapat juga dilihat dari bentuk piramida penduduk. Karena dengan melihat bentuk piramida penduduk akan diketahui mengenai perbandingan jumlah penduduk anak-anak, dewasa dan orang tua pada wilayah yang bersangkutan.

Ada tiga jenis struktur penduduk :

1. Piramida Penduduk Muda
Piramida ini menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang
berkembang. Jumlah angka kelahiran lebih besar daripada jumlah kematian.
Bentuk ini umumnya kita jumpai pada negara-negara yang sedang berkembang.
Misalnya : India, Brazilia, Indonesia.
2. Piramida Stationer
Bentuk piramida ini menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis) sebab tingkat
kematian rendah dan tingkat kelahiran tidak begitu tinggi. Piramida penduduk yang
terbentuk sistem ini terdapat pada negara-negara yang maju seperti Swedia, Belanda,
Skandinavia.
3. Piramida Penduduk Tua
Bentuk piramida penduduk ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang
sangat pesat dan tingkat kematian kecil sekali. Apabila angka kelahiran jenis pria besar, maka
suatu negara bisa kekurangan penduduk. Negara yang bentuk piramida penduduknya seperti
ini adalah Jerman, Inggris, Belgia, Prancis.

Rasio Ketergantungan (Dependency of Ratio)

Rasio Ketergantungan ialah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah penduduk golongan umur yang belum produktif dan sudah tidak produktif kerja lagi dengan jumlah penduduk golongan umur produktif kerja. Biasanya dinyatakan dalam persen (%).

DR Penduduk 0-14 + Penduduk 65 ke atas / Penduduk 15-64 x 100

Atau

DR + Pn0 - 14 + Pn65 ke atas / Pn15 - 64 x 100

Jadi makin tinggi jumlah penduduk usia muda dan jompo makin besar rasio ketergantungannya. Artinya beban penduduk pada kelompok umur produktif kerja (aktif ekonomi) untuk dapat menghasilkan barang atau jasa ekonomi bagi golongan umur muda dan jompo adalah tinggi.

Sebagai ukuran rasio ketergantungan adalah sebagai berikut :
DR kurang dari 62,33% adalah baik
DR lebih dari 62,33% jelek

C. KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN

A. Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia.

1. Zaman Batu-Zaman Logam

Upaya menelusuri sejarah peradaban bangsa Indonesia mulai dari zaman batu sampai zaman logam sesungguhnya berliku-liku ternyata bahwa zaman batu itu pun terbagi dalam dua zaman :
2. Zaman batu tua
Alat-alat batu pada zaman batu tua baik bentuk atau pun permukaan peralatan masih kasar-kasar, misalnya kapak genggam. Kapak genggam semacam ini kita kenal dari Eropa, Afrika, Asia Tengah sampai Punjab (India). Tapi kapak genggam semacam ini tidak didapati orang di Asia Tenggara. Berdasarkan para ahli prehistori bangsa-bangsa Proto Austronesia pembawa kapak batu besar maupun kecil bersegi-segi itu berasal dari China Selatan lebih lanjut menyebar ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan Barat. Kapak-kapak batu serupa itu diasah sampai mengkilat dan diikat kepada tangkai kayu dengan rotan.
3. Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Zaman ini benar-benar membawa revolusi bagi kehidupan manusia pada zaman ini mereka mulai hidup menetap, membuat rumah, membentuk kelompok masyarakat desa, bertani dan beternak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa manusia-manusia zaman batu muda itu telah mengenal dan memiliki kepandaian mengecor atau mencairkan logam dari biji besi, oleh karena itulah mereka mampu membuat aneka ragam senjata berburu dan berperang serta alat-alat lain yang mereka perlukan.

B. Kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam.


1. Kebudayaan Hindu dan Budha
Pada abad ke-3 dan ke-4 agama Hindu masuk ke Indonesia, khususnya pulau Jawa. Hindu yang berasal dari India itu berlangsung luwes dan mantap, sekitar abad ke-5 ajaran Budha atau Budhisme masuk ke Indonesia, khususnya ke pulau Jawa. Ajaran agama Budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju daripada Hinduisme sebab Budhisme tidak menghendaki adanya kasta-kasta dalam masyarakat, walaupun demikian agama-agama tersebut tumbuh dan berdampingan secara damai. Penganut Hinduisme dan Budhisme melahirkan karya-karya budaya yang bernilai tinggi dalam seni bangunan dan arsitektur, contohnya seni pahat, seni ukir, maupun seni sastra seperti tercermin dalam bangunan relief-relief yang diabadikan dalam candi-candi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, contohnya : Candi Borobudur adalah candi Budha terbesar dan termegah di Asia Tenggara bahkan termasuk keajaiban dunia.
2. Kebudayaan Islam
Pada abad ke-15 dan ke-16, agama Islam telah dikembangkan di Indonesia oleh para pemuka Islam yang disebut WaliSongo. Titik sentral penyebaran agama Islam pada abad itu berada di Pulau Jawa. Pada abad ke-15 ketika kerajaan Majapahit mulai surut berkembanglah Negara negara pantai yang dapat merongrong kekuasaan dan kewibawaan majapahit yang berpusat di pedalaman. Negara-negara yang dimaksud Negara Malaka di Semenanjung Malaka, dikendalikan oleh pedagang kaya dan golongan bangsawan. Agama Islam berkembang pesat di Indonesia dan menjadi penganut sebagian besar penduduk Indonesia.

C. Kebudayaan Barat

Unsur kebudayaan yang juga memberi warna dan corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan Barat. Awal masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia setelah bangsa penjajah masuk ke Indonesia terutama bangsa Belanda. Di kota-kota muncul bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Barat dalam kurun waktu itu juga.

D. Kebudayaan dan Kepribadian

Nerbagai penelitian antropologi budaya menunjukkan bahwa terdapat korelasi di antara corak kebudayaan dengan corak kepribadian anggota masyarakat. Opini umum juga menyatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa adalah cermin kepribadian bangsa yang bersangkutan. Sebaliknya, segala corak yang berbeda dari corak kebudayaan mereka dianggap aneh/bertentangan dengan kodrat alam. Contoh : Di Indonesia pada umumnya seorang wanita hamil tidak mempunyai suami ia adalah seorang profil yang melanggar adapt kebiasaan suatu keluarga. Sebab ia telah melanggarnorma-norma yang berlaku. Ciri khas kebudayaan suatu bangsa dalam bentuk lain dapat diamati dalam macam ragam karya budayanya. Misalnya dari seni tari, senipahat, dan seni ukir. Indonesia memiliki kebinekaan dalam hal bahasa dan adapt istiadat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman