My Melody Is Cute

Selasa, 15 Desember 2009

BAB 9

AGAMA DAN MASYARAKAT

Fungsi Agama

Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:
  • Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberi penerangan kepada dunia(secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia adalah ciptaan Allah(s.w.t) dan setiap manusia harus menaati Allah(s.w.t).

  • Menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab soalan-soalan ini.

  • Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

Konflik besar memang bisa ditimbulkan oleh agama jika doktrin agama mengeras, yakni kristalnya perasaan dan sikap eksklusif. Sikap ini mengondisikan para pemeluk agama mengklaim bahwa dirinya paling benar. Bentuk keberagamaan semacam ini secara potensial bisa membawa konflik kepada agama lain. Apalagi, sikap eksklusif itu dibenarkan dengan klaim bahwa hanya agama yang dipeluknya adalah yang paling benar, sementara agama lain adalah “jalan yang salah yang membawa pengikutnya kepada kesesatan” seperti sering dirumuskan oleh beberapa teolog. Di samping itu, setiap penganut agama biasanya cenderung membuat standar ganda dalam melihat agama lain. Dalam menilai agama sendiri, biasanya ia memakai standar bahwa agamanyalah yang paling benar menurut standar ideal-normatifnya sendiri. Sementara dalam melihat agama lain, selalu dilihatnya ada sesuatu yang tidak ideal. Standar ganda ini juga sering digunakan untuk menegaskan secara teologis bahwa agama sendiri selalu bersifat konsisten, tanpa pertentangan atau kesalahan sama sekali, asli dari Tuhan, sementara agama lain banyak sekali kontradiksi, inkonsisten, dan merupakan buatan manusia.

Melihat persolan di atas, tampak jelas bahwa dalam situasi ekstrem, agama bisa menjadi pendorong terjadinya konflik. Oleh karena itu, isu-isu penting untuk masa depan kemanusiaan, seperti demokrasi, penghormatan hak asasi manusia, dan perdamaian dunia, tak terjamah oleh agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman